Senin, 24 Juni 2013

Camcao Hijau


Hari sabtu-ahad kemarin aku berkunjung ke rumah bukyang dan pakyang di Purworejo. Alhasil beberapa agenda kampus aku lewatkan begitu saja #eh, hehehe... afwan baru bener-bener pengin  refreshing :D

Rumah eyang berada di tengah kota purworejo, jaraknya 1km dari alun-alun . Meskipun berada di tengah kota, rumah eyang sangat asri. Eyang punya banyak sekali tanaman, dari tanaman hias, buah-buahan, sampai tanaman obat. Tanaman-tanaman itu diletakan di samping rumah dan teras yang berada di lantai dua.

Satu tanaman menarik perhatianku. “Ini pohon apa bukyang?” tanyaku. “Katanya sih pohon obat, tapi ternyata bukan, ada yang bilang itu pohon camcao..” Sifat penasaranku pun kambuh, lalu aku meminta bukyang untuk mengajariku membuat camcao. Yeaaah percobaan pun dimulai.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memetik lembaran daun camcao yang sudah agak tua.
 Nah ini nih hasil panen daun camcao yang katanya sudah langka :D

Karena sifatnya langsung dimakan, sebelum diolah daun camcao harus dicuci bersih dengan air mengalir
Camcao didapatkan dari daun camcao yang rendam dalam air matang lalu diperas hingga sari-sarinnya keluar. Cara membuatnya mirip dengan cara pembuatan santan kelapa. Karena langsung bersentuhan dengan tangan si pembuat, pastikan tangan kita bersih yaak ^^ #ilmu sanitasi


 Nah, setelah warna air semakin menunjukan hiijau pekat (seperti lumut) dan kental itu pertanda sari yang terkandung dari daun camcao telah terperas habis. Ambil saringan, untuk memisahkan remasan daun camcao dan air perasan atau sari daun camcao.
Nah, setelah itu diamkan perasan daun camcao selama kurang lebih 1 jam. Jelly camcao pun siap untuk dihidangkan bersama cendol, dawet, dan juruh gula jawa. Nyuummi :D


Ternyata gampang banget ya. Menurut cerita ibu dan budhe, jaman mereka kecil, mereka suka bikin camcao sendiri. Hiks, sementara aku baru bisa bikin camcao di umur yang hampir 21 tahun.
Happy Cooking ^^

Selasa, 11 Juni 2013

Rindu lagi


Satu tahun di kampus, ternyata adalah hal yang istimewa.

Awalnya :
Kikuk, berinteraksi dan bekerjasama dengan orang yang baru saja kukenal,
Rumit, ketika harus memahami dengan cepat, medan yang bagiku sangat asing,
Susah, karena bagai berlari di bawah berbagai tekanan dan ditarik beban yang sangat berat,

Tak jarang, air mata meleleh tak terkendali,
Mencerca setiap sikap, yang sering mengundang rasa kecewa
Menyesali setiap keputusan, yang kadang terlihat prematur untuk dijalankan,
Menyalahkan setiap kesempatan yang hilang, hanya karena kecerobohan dan ketidakmampuanku,

Benar-benar merasa sendiri, ketika beban itu terasa memberat,
tetapi seperti tak ada kawan yang berniat meringankan,

Ya Rabbi,                          
Namun, kini kusadari inilah yang namanya proses belajar,
Belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kini air mata itu meleleh lagi,
Namun bukan untuk mencerca, menyesali,atau  menyalahkan,

Air mata ini, adalah air mata rindu,
Rindu pada saudara-saudara yang kutemui di jalan perjuangan ini,
Rindu berjuang bersama mereka lagi,
Rindu atas setiap kerja keras mereka untuk menghidupkan jalan juang ini,

Air mata ini, adalah air mata syukur,
Mensyukuri karena telah diberi kesempatan untuk belajar di tempat ini,
Mensyukuri, telah diberi keberuntungan, bertemu, berkenalan, dan berteman dengan orang-orang keren, yang dari mereka aku dapat belajar keikhlasan, totalitas, dan keteguhan

Terimakasih untuk setiap bimbingan, kesabaran, pengertian, dan bantuannya. Selamat menempuh hidup baru :D #bemftp

Gerimis, 3 Februari 2013
 

Kunang Kunang Kecil Template by Ipietoon Cute Blog Design